Warga Terdampak Suara Bising dan Limbah, Pabrik Es Milik KUD Bina Mina Lampung Timur Didesak Beri Kompensasi

WARTAPOLTI..COMLampung Timur |
Warga Dusun IX Cirebon Baru Utara, RT 028 RW 015, Kelurahan Muara Gading Mas, Kecamatan Labuhan Maringgai, Lampung Timur, mengeluhkan keberadaan pabrik es milik KUD Bina Mina yang diduga menimbulkan berbagai dampak negatif bagi lingkungan dan warga sekitar.

Pabrik yang disebut-sebut telah berdiri sejak beberapa tahun lalu itu memicu keresahan warga, khususnya soal suara bising dari mesin yang beroperasi tanpa henti selama 24 jam. Salah satu warga yang enggan disebutkan namanya menyatakan bahwa rumahnya hanya berjarak beberapa meter dari pabrik, dan suara mesin membuat mereka terganggu siang dan malam.

“Selain bising, kami tidak pernah mendapat kompensasi apapun dari pabrik. Pernah kami sampaikan keluhan, tapi hanya dijanjikan tanpa realisasi. Sudah berlangsung 4-5 tahun,” kata warga tersebut.

Warga juga mengeluhkan dugaan pencemaran limbah pabrik, terutama saat terjadi kerusakan mesin dan tercium bau amoniak yang menyengat. Limbah cair diduga mengalir ke irigasi dan masuk ke tambak warga, menyebabkan gagal panen dan kerugian besar.

“Saya punya tambak udang yang pernah gagal panen karena air irigasi tercemar limbah amoniak dari pabrik. Selain itu, bau menyengat bikin sesak napas dan mata perih,” ungkap warga lainnya.

Masalah lain juga muncul dari sisi ketenagakerjaan. Seorang mantan karyawan mengaku diberhentikan secara sepihak tanpa surat resmi. Ia menyebut diberhentikan atas perintah mitra KUD, tanpa prosedur pemecatan yang jelas.

Saat dikonfirmasi, pihak pengurus KUD Bina Mina melalui penasihatnya, Edi Susilo, membenarkan keberadaan dua mesin di pabrik, satu di antaranya adalah kompresor yang hidup 24 jam. Edi juga menyatakan bahwa pembuangan limbah sudah dilengkapi bak penampungan dan pernah diuji dengan ikan lele yang tetap hidup di dalamnya. Ia juga mengaku akan menyampaikan masukan kepada pengurus terkait suara bising yang mengganggu warga.

Terkait kompensasi, Edi menyebut setiap tahun pihak pabrik memberikan THR saat lebaran dan membagikan daging kurban kepada sekitar 100 kepala keluarga. Namun warga menilai bantuan itu tidak sebanding dengan dampak yang mereka terima.

Masalah limbah dan suara bising hingga kini belum menemukan solusi pasti. Warga mendesak agar pemerintah daerah dan dinas lingkungan hidup segera turun tangan melakukan investigasi serta memberikan perlindungan kepada masyarakat terdampak.

Masyarakat berharap adanya penataan ulang sistem operasional pabrik agar tidak mengganggu kenyamanan dan keselamatan warga serta lingkungan.

Mungkin Anda Menyukai